>Sea Walker– Visiting Nemo & friends

>

Setelah pulang dari Bali pertengahan tahun 2004 seorang sahabat memberitahuku tentang adanya SeaWalker, sebuah kegiatan berjalan-jalan di dasar laut, yang dapat dilakukan oleh semua orang bahkan yang tidak bisa berenang sekalipun. Syaratnya hanya berbadan sehat dan berumur 9 tahun atau bertinggi badan diatas 140 cm.
Meskipun kami bertiga senang bersnorkeling ria di laut, tetap saja tawaran untuk dapat berjalan kaki di dasar laut tanpa perlu menggunakan peralatan selam merupakan suatu godaan. Hanya saja godaan ini harus kami tahan selama 6 tahun!!!
Akhirnya, trip ke Bali tahun 2011 ini adalah yang ter-asyik karena akhirnya Kevin sudah berusia 10 tahun dan tingginya sudah hampir sama denganku yang ukurannya 160 cm ini🙂. Tiket SeaWalker pun sudah kami pesan dari Jakarta berbarengan dengan tiket Tari Kecak dan tari Barong. Karena kami datang sendiri ke Puri Santrian Resort, maka kami dikenai Rp 545.000 per orang. Anak-anak pun dihitung 1 orang😦. Jika dijemput ke hotel tentu akan lebih mahal.

Jam 08.30 kami berangkat dari hotel kami di Jimbaran. Memasuki Jl Bypass Ngurah Rai mulai sekitar pertigaan Jimbaran ternyata macet..cet..cet..!
Padahal kemarin kami diingatkan lewat telpon sudah harus dilokasi jam 09.30…
atas: ternyata setiba di lokasi masih harus menunggu sekitar 30 menit😦
Untungnya selepas patung Dewa Ruci di depan Mal Bali Galeria kemacetan mulai terurai. Akhirnya jam 09.40 kami sudah berada di Jl Danau Poso, Sanur, di lokasi Puri Santrian Resort.
kanan: gaya patung menangis
Setelah melapor ternyata kami masih harus menunggu beberapa orang lagi yang akan ikut, dan TERNYATA mereka mengadakan beberapa kali trip sampai dengan jam 12 siang. Jadi kalau tertinggal yang jam 09.45 maka kita masih bisa ikutan trip yang jam 10.15. Jadi rada manyun secara kemarin diingatkan untuk on time dan pengalaman nyetir ala sport jantung selama sekitar 1 jam barusan, Bleh!
kiri: Diterangkan bahasa isyarat dan prosedur darurat lainnya
Menjelang jam 10.15 kami dipersilahkan ganti baju di changing room. Semua barang bawaan disimpan di locker room yang aman. Jadi yang kami bawa hanya kamera tahan air (untuk kedalaman s/d 10 meter) dan handuk serta air mineral botol yang mereka sediakan.
Setelah berganti pakaian renang, kami diberi briefing singkat tentang prosedur keamanan di bawah air, bahasa isyarat sederhana dan tindakan darurat lainnya. Terakhir harus menandatangani surat pernyataan dan asuransi.
Setelah mengenakan wet shoes yang mereka berikan, berangkatlah kami dengan speedboat menuju ponton mereka yang letaknya beberapa puluh meter dari pantai.

kanan: dikerubuti ikan saat memberi mereka makanan

Tiba di atas ponton kami masih harus menunggu peserta trip sebelumnya yang sedang berada di dasar laut. Ternyata diantara mereka terdapat anak yang kalau dilihat dari badannya sih seperti berusia 5 tahun!!! Setelah kutanyakan pada petugas ternyata mereka bilang boleh saja namun resiko ditanggung sendiri…… oalah… tau gitu tahun 2007 atau 2008 udah ikutan deh.

Tidak berapa lama kemudian kami satu persatu masuk ke dalam air dengan helm yang sudah ada nomornya masing-masing. Oksigen dialirkan langsung lewat kabel ke dalam helm. Yang pakai kacamata boleh tetap menggunakan kacamatanya hingga ke dasar laut🙂
Saat menjejak tangga turun ke bawah, segera terasa tekanan di telinga, sakitnya –
bukan main. Namun sesuai petunjuk saat briefing hal tersebut dapat dikurangi dengan cara menggerakan rahang ke kanan dan kiri.
oh ya, jangan membayangkan bahwa tangganya semacam tangga bambu yang biasa digunakan tukang bangunan ya. Yang mereka sebut tangga adalah beberapa pipa stainles steel yang berjejer ke bawah, dengan jarak antar pipa lumayan lebar, jadi harus pegangan kuat-kuat supaya ngga bingung mencari mana anak tangga selanjutnya secara kita ngga boleh menunduk karena akan mempengaruhi posisi helm dan jumlah oksigen di dalamnya, wah!
Setelah menuruni kedalaman sekitar 5-6 meter akhirnya kakiku menjejak pasir di dasar laut. Mulanya pemandangan agak keruh, namun lama kelamaan jadi lebih jernih. Eh, baru mulai melangkah koq susah amat ya, ternyata hal tersebut disebabkan adanya arus laut. Untungnya dengan berpegang pada helm akhirnya bisa juga jalan dengan nyaman dibawah.
Selama sekitar 30 menit kami ber-enam dipandu oleh 3 instruktur selam dan 2 orang photographer berkeliling melihat aneka ikan dan koral dibawah, serta berkesempatan memberi makan ikan di bawah. Aih, serasa bintang film deh, karena sepanjang 30 menit itu semua gerakan kita diabadikan baik dalam bentuk foto maupun video.

Setelah habis waktu kami dipandu naik kembali ke ponton dan selanjutnya di transfer ke Puri Santrian menggunakan speedboat yang tadi. Saat kami sampai di atas ponton sudah ada 6 orang lain yang akan turun ke bawah. Laku banget ya..
kanan & kiri : baru kembali ke atas ponton
Setelah mandi dan berganti pakaian di changing room (mereka bahkan menyediakan hair dryer dan kantong plastik untuk baju basah) kami diberi minuman ice lemon tea dan dipersilahkan untuk menonton-

video hasil rekaman tadi. Jika berminat, dapat dibawa pulang dengan membayar Rp 170.000. Sementara untuk foto dapat ditebus dengan harga Rp 90.000 per lembar, haduh! untungnya kami membawa kamera sendiri :))
kiri: di bale bengong Puri Santrian

Sekitar jam 12 siang kami mampir di Mc Donalds Jl Bypass Ngurah Rai untuk makan siang lalu pulang ke hotel.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s