>Gili Nanggu: The Lost Paradise

>

Hari terakhir di pulau Lombok aku agak ogah-ogahan waktu diajak suamiku pergi ke Gili Nanggu. Pertama, badan sudah lelah 3 hari belakangan ini. Kedua, namanya yang baru kudengar kemarin malam. Terakhir, akses kesana yang we’re totally blind!!
Tapi dikomporin my hubby, dia bilang: “kapan lagi kita ke Lombok Barat, ntar kalo datang sini lagi giliran bagian Selatan dan Timur kita datangi, aku ngga mau lho balik ke bagian Barat dan Utara lagi, jauh jaraknya.”
kiri & kanan: ke Sekotong
kiri: mendekati Sekotong yg sepi

kanan: Pelabuhan Lembar di kejauhan

Ya sudahlah, nurut aja jadinya. Lombok Taksi kita pesan dari hotel sekitar jam 09.30.
Perjalanan mula-mula mengarah ke Mataram kemudian berbelok ke barat sebelum memasuki kota, tepatnya ke arah Sekotong. Dalam perjalanan ke sana kami melewati sentra gerabah yang namanya Banyumulek, just passed by.

OMG!, perjalanan ke sana benar-benar melewati jalanan yang minim angkutan, kebanyakan yang berpapasan hanya mobil pribadi dan 1-2 taksi. Angkot? nope!


kiri & kanan: Gili Nanggu dari jauh
Untungnya si bapak sopir sepakat untuk menunggu kita di pangkalan tempat menyewa kapal. Usut punya usut rupanya di Lombok ini lebih banyak taksinya daripada calon penumpangnya. Jadi daripada balik ke Mataram kota tanpa penumpang, lebih baik nungguin kami main di pulau setengah harian.

Dia mengingatkan yang penting jangan sampai jam 5 sore ya, soalnya jalan pulangnya pagi aja sepi gini, apalagi nanti kalau sudah gelap… ooh, sip deh pak! (akhirnya selama nunggu si bapak kami beri uang makan siang aja)
kiri & kanan: amazing Gili Nanggu

kiri: check fin, check sunblock..
kanan: deretan kamar berbentuk lumbung padi khas sumba yang disewakan
kiri bawah: 4 toilet yang super bersihnya, sampai bengong!!! Sumpah deh…
Hampir 1,5 jam perjalanan, setelah terlihat Pelabuhan Lembar di kejauhan (yang merupakan pelabuhan yang melayani penyeberangan ferry dari Lombok ke Bali) taksi kami berbelok ke kiri, mendaki dan merambah bukit menuju Sekotong di baliknya. Tidak sampai 15 menit kemudian kami tiba di Pantai Mawun, tempat bersandarnya kapal-kapal yang dapat kita sewa untuk pergi ke Gili Nanggu.

Kapal kecil yang kami sewa seharga Rp 300.000 membawa kami ke Gili Nanggu saja, menunggu kami disana dan kemudian akan mengantar kami kembali ke Mawun di sore nanti. Kalau mau mengitari dan singgah di Gili lainnya, harga sewanya akan bertambah. Oh ya kalau mau sewa fin, mask untuk snorkeling dan pelampung tempatnya tepat di samping loket sewa kapal. kualitasnya so-so..

Di sekitar Gili Nanggu terdapat beberapa Gili lain yang bisa kita datangi yaitu Gili Sudak, Gili Tangkong dan Gili Poh. Jika perjalanan diteruskan sedikit ke barat, tepatnya sampai ke Pelanggan Barat, dari sini kita bisa menyewa kapal menuju Gili Gede yang merupakan resort tersendiri dan beberapa Gili di sekitarnya. Namun yang terkenal karena ikannya yang beraneka ragam adalah Gili Nanggu.

Penyeberangan hanya memakan waktu sekitar 20 menit. Hampir jam 11.30 ketika kami tiba di Gili Nanggu.
Gili Nanggu merupakan sebuah private island sehingga kami dikenai charge masuk oleh yang mengelolanya sebesar Rp 5.000/orang (diatas 5 tahun).


kiri, kanan, & bawah: ikan, ikan & ikan…………………….

Tidak banyak tempat duduk yang dapat dijadikan tempat meletakkan barang bawaan kami. Yang tersisa hanya sebuah bale-bale kecil. Jadi lebih bagus kalau kita sudah bawa handuk pantai yang lebar sehingga barang bawaan bisa diletakkan pada hamparan handuk tersebut diatas pasir pantai yang putih ini.

Tidak sampai 5 meter dari pantai sudah dapat ditemui aneka koral dan ikan dengan berbagai macam ukuran dan warna. Fish Heaven, hehe, aku serasa di dalam akuarium deh jadinya.
Kalau lupa sewa peralatan snorkeling, ngga usah kuatir, ternyata di Gili Nanggu juga menyewakan. Malahan yang disini ber merek, jadi harganya lebih tinggi dikit deh. Masknya Rp 25 ribu, tapi oke punya.., melekat baik dan air laut ngga pernah tersedot melalui selangnya!

Kalau ke sini rugi deh kalo ngga mencoba snorkeling. Karena ombak nyaris tidak ada, membuat tempat ini cukup aman buat anak-anak. Buktinya Kevin berani snorkeling tanpa jaket pelampung sampai ke tengah batas aman snorkeling. TOP pokoknya tempat ini.

3,5 jam kami habiskan untuk bersnorkeling ria, sampai ngga ingat untuk lunch. Di sini terdapat restoran dekat penginapannya, namun kami sudah bawa macam-macam snack dan air dari Mataram tadi, mengingat pengalaman kalau beli di pulau biasanya lebih mahal.
Sekitar jam 15.30 kami putuskan untuk kembali ke pantai Tawun karena langit mendadak mendung. Anti menyeberang saat mau hujan, karena ombak biasanya tiba-tiba bisa tinggi😦

kiri: bye Gili Nanggu!!
kanan: welcome back 2 Tawun

Dalam perjalanan pulang kami minta singgah dulu ke Mataram Mall buat beli sup panas dan ayam goreng di KFC lalu dimakan di mobil. Total ongkos taksi yang harus kami bayar Rp 250.000.

kiri: jalan raya Senggigi di sore hari

Tiba di Senggigi matahari hampir terbenam, untungnya kami sempat menikmati sunset terakhir di Lombok.
kiri, kanan, kanan atas & kiri bawah: suasana hotel Sheraton Senggigi menjelang sunset
Selesai sudah liburan kami di Lombok. Agustus tahun depan rencananya kami akan datang lagi kemari untuk menjelajah Lombok Selatan dan mungkin juga Lombok Timur … Adios!
bawah: menonton my kiddo snorkeling.



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s