>Wisata ke Bandung Selatan: Kawah Putih dan Situ Patengan

>

Setelah ulangan umum dari sekolah selesai, ada 1 minggu istirahat sebelum menjalani ulangan dari dinas pendidikan nasional. Jadi pada tanggal 5 Juni 2010 kami mengajak Kevin untuk jalan2 ke Kawah Putih. Sudah ada beberapa temanku dan juga guru2 sekolah Kevin yang pernah mengunjungi tempat tsb, dan dilihat dari foto2 mereka Kawah Putih sepertinya tempat yang sayang untuk dilewatkan.

Dari rumah kami berangkat pagi sekali, jam 05.45, karena ingin sampai di Kawah Putih sekitar jam 9 pagi. Seperti biasa kami berhenti di KFC km 39 dulu untuk beli sarapan dan dimakan sambil jalan.

kiri: keluar kompleks masih sepi
kanan: sampai di Bale Endah jam 8
Jam 7 kurang 5 menit kami sudah memasuki tol Cipularang dan melewati km 76 yg merupakan exit keluar terdekat kalau mau ke tangkuban perahu. Kali ini kami akan keluar di pintu tol Kopo-Bandung.

kanan: Masjid Besar Ciwidey
Dari exit tol Kopo belok kanan melewati kompleks Kopo Permai tempat tinggalku semasa smp🙂 terus ke arah Bandung Selatan.
10 tahun tinggal di Bandung paling jauh jalan ke arah selatan ya cuma sampai patung pesawat di Nurtanio itu, ngga pernah lebih…hehe. Makanya kaget juga waktu dibawa suamiku lewat sini… oh, ternyata…?!

Jalan ke arah Kawah Putih selepas Ciwidey kanan kirinya didominasi oleh kebun2 strawberry kecil maupun besar dan alamaaak… jalanannya sempit!

Jam 9 lewat 1 menit kami memasuki gerbang Kawah Putih yang katanya baru di buka kembali setelah tutup beberapa waktu yang lalu untuk ditata ulang. Ternyata penataan tsb berwujud pada kondisi jalan ke kawah yang sekarang mulus sekali, dan pada lokasi pedagang yang dulu katanya berada di pinggir bibir kawah, namun setelah longsor membuat sang pemilik yaitu kementrian kehutanan berpikir ulang untuk merenovasi kawasan wisatanya ini.

Saat ini lokasi untuk pedagang terletak di sebelah kanan setelah gerbang bayar tiket. Ada 2 pilihan apakah hendak membawa mobil sampai ke atas (dekat dengan kawah) atau memarkir mobil di area pedagang kemudian naik angkutan yang mereka sediakan ke atas. Opsi ke 2 tentu lebih murah, namun penetapan harga belum terlalu jelas. Sepertinya mereka belum siap betul untuk membuka kembali tempat ini.

Kami bertiga memilih opsi pertama dan harus membayar tiket seharga Rp 185.000 What????? tiketnyapun hanya berupa kwitansi tanda terima uang yang ditulis tangan dan diberi cap oleh si bapak. Wah..wah.., padahal katanya sebelum renovasi itu untuk masuk Kawah Putih cukup membayar sekitar Rp 7.000 seorang?
Selesai urusan bayar tiket, mobil langsung jalan ke arah atas. Jalan yang mulus sekali tapi ngga cukup lebar untuk 2 mobil, heran, waktu bikin jalan mereka ngukur lebar jalannya pakai ukuran daihatsu ceria kali ya?
Sampai di tempat parkir di atas baru ada 1 mobil yang parkir.yes! berarti masih sepi nih.. senangnya😀

Pemandangan disini memang fantastis, serasa di danau salju yang dikelilingi pohon meranggas yang kedinginan, padahal kenyataannya mereka meranggas karena terkena hawa belerang yang baunya membuat paru-paru megap2 karena sesaknya…hhhhhhhfh. Saran dari bapak petugas sebaiknya berada di sekitar kawah tidak lebih dari 20 menit untuk amannya, karena kandungan belerang disini sangat tinggi.
Menurut sejarahnya dulu tempat yang merupakan danau kawah dari gunung Patuha ini tidak pernah didatangi oleh penduduk sekitar bahkan hewan satupun nggak pernah terlihat saking angkernya. Kemudian datang seorang berkebangsaan Belanda yang menyelidiki tempat ini dan menemukan penyebab mengapa tidak ada satu hewan-pun yang mau dekat2 kemari, nggak lain karena hawa belerang itu. Sejak itu kawasan ini mulai didatangi orang karena keindahan alamnya yang tersebar dari mulut ke mulut.
Puas menikmati Kawah Putih kami segera kembali ke mobil. Saat berjalan kesana kami berpapasan dengan sangat banyak orang yang baru datang..hehe…untung aku sudah puas foto2 bersepi-ria dengan alam.

kiri: membawa Buzz n Woody foto di jalan menuju Situ Patengan.

Dari Kawah Putih kami pergi menuju ke Situ Patengan yang letaknya tidak terlalu jauh dari kawah tersebut. Sempat berhenti di pinggir jalan untuk foto2 dengan latar belakang kebun teh yang terletak di lembah luas yang bukan main indahnya..

Tiket masuk bertiga + mobil Rp 15.000, sangat murah dibandingkan Kawah Putih. Mungkin ini sebabnya taman wisata ini jauh lebih ramai dari Kawah Putih.

Ditengah-tengah taman wisata terdapat danau besar (situ=danau) dan di tengah danau terdapat pulau kecil yang dinamakan pulau asmara karena bentuknya yang mirip hati.

Orang sering melafalkan Situ Patengan dengan Situ Patenggang, namun Patengan berasal dari bahasa Sunda ‘Pateangan-teangan’ yang artinya saling mencari. Alkisah katanya ada 2 orang yang bernama Ki Santang dan Dewi Rengganis yang saling cinta, lalu mereka berpisah sekian lama dan kemudian saling mencari. Finally they met di sebuah tempat yang dinamakan Batu Cinta. Si wanita lalu minta dibuatkan danau dan sebuah perahu untuk berlayar bersama. Perahu ini kemudian menjadi sebuah pulau yang berbentuk hati tadi.

Jam 11.35 kami selesai mengunjungi tempat ini kemudian mobil mengarah kembali ke Bandung.
Menjelang pasar Ciwidey, macet. Soreang, macet. Kopo, macet, puarah. Hhhhrrggghh.. mana perut udah kriuk kriuk, namun hujan besar membuat kami malas untuk menepikan mobil sekadar untuk berhenti di restoran apa aja gitu.


kiri: kebun teh di Ciwidey, menjelang masuk ke Situ Patengan


Akhirnya sekitar jam 3 sore baru kami bisa lepas dari macet-macet tersebut yang ternyata sebagian besar disebabkan oleh genangan air karena hujan besar itu.

Setelah berhenti makan siang di Jl Hasanudin kami langsung menuju hotel Padma di Ciumbuleuit untuk beristirahat karena badan sudah lelah sekali.
Istirahat di kamar, baring-baring, nonton tv, main komputer, internetan gratis, ngga terasa jarum sudah menunjukkan hampir jam 8 malam dan perut mulai bunyi lagi, wah..

Karena udah tobat sama yang namanya macet, malam ini kami putuskan untuk makan malam di Maxi’s Resto dekat hotel saja. Sebetulnya sih cukup jalan kaki tapi karena gerimis ya terpaksa naik mobil..hihi, baru jalan bentar udah musti turun lagi. Hanya 2 menit🙂 Setelah kenyang langsung balik lagi ke hotel.
Paginya setelah selesai sarapan kami sempatkan untuk berenang. Aku paling senang berenang di hotel ini karena airnya ngga pernah berasa dingin walaupun cuaca disini sedang dingin sekalipun. Heran d, jangan-jangan mereka pakai water heater ya, hanya saja suhunya disetel sedang2 saja🙂
Sisa hari kuhabiskan dengan leyeh-leyeh dikamar sementar Kevin main flying fox dan basket bareng papanya……….😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s