>Bandung, the City with A Lot of Memories

>Januari 1981

Aku pertama kali menginjakkan kaki ke Bandung, tepatnya turun di stasiun kereta api Bandung. Yup! kami sekeluarga pindahan kesini karena ayahku dipindah-tugaskan dari Surabaya. Walaupun awalnya bertugas di Surabaya, kami (Ibuku, aku dan adik perempuanku) ngga tinggal bareng di Surabaya. Kami bertiga hidup di Malang (dengan Opa-Omaku dari pihak Ibu), kota sejuk yang jaraknya hanya 1 jam dari Surabaya, sehingga ayahku terbiasa bolak-balik Surabaya-Malang beberapa hari sekali.
Jadi di Bandung inilah sebenarnya keluarga kami memulai hidup bersama yang mandiri.
Dengan mobil sedan model taksi 4848 warna hitam kami ber4 keluar dari stasiun kereta menuju daerah di timur Bandung, tepatnya ke Jl Salendro Timur. Barang2 sudah dikirim dengan truk besar sekitar 3 hari sebelumnya……..
24 Oktober 2009
Aku, suami dan anak, serta adik perempuanku dan keluarganya di
tambah 2 tamu istimewa, tante2ku dari pihak ayah, tante Tilly dari LA dan tante Oke dari Tomohon, Sulawesi Utara, berangkat menuju Bandung sekitar jam 08.30.
Bulan lalu Omaku di Tomohon baru saja meninggal dunia. Selepas semua urusan dan acara beres, tante Oke mau mengantar tante Tilly pulang ke Amerika sekalian melepaskan ketegangan, maka singgahlah mereka ke Jakarta.
Di rest area km 39 kami menunggu mobil adikku untuk bergabung bersama. Sekalian isi perut di KFC dan take pict. Ngga lama kemudian perjalanan kembali dilanjutkan.
Baru kali ini tante2ku mencoba Jkt-Bdg lewat tol Cipularang. Tante Oke dulu lama tinggal di Bandung bersama aku sekeluarga waktu beliau menyelesaikan Masternya di ITB, sedangkan Tante Tilly lebih jadul lagi tinggal di Bandung saat ada tugas dari kantor sekitar akhir tahun 1970an.
Saat aku sekeluarga sudah pindah ke Jakarta sejak Januari 1990, tante Oke sering week-end ke Jkt naik KA Parahyangan. Tapi ngga lama, setelah itu beliau kembali ke Tomohon karena tugas memanggil.
Sampai di Bdg jam 11 kurang, cuaca agak mendung. Karena check-in hotel baru bisa jam 2an, maka kami putuskan mau lihat ITB dulu, lalu anakku mau nyobain naik kuda muterin jl Ganesha, ke dekat kebun binatang, 3 putaran ke dago dan balik lagi, Rp 50ribu. Panen’nya si mamang teh!! Ponakanku yang masih kecil mau naik kuda juga, akhirnya naik delman aja deh sama papanya..
Tapi ngga lama hujan rintik2 turun dan segera berubah menjadi guyuran hujan deras, buru-buru deh naik ke mobil semuanya.

Ini saat kita masuk ke dalam kampus ITB, turun di jurusan Kimia

dan masuk ke gedung pascasarjana, ngobrol2 sebentar dengan orang-orang jurusan sekalian foto2 disana.
Ke dua mobil kami menembus hujan deras lewat Jl Taman Sari menyusuri tepi kebun binatang lalu belok kanan, sampai lampu merah perempatan Dago atas belok kanan ke arah bawah lagi. Setelah melewati rumah sakit Boromeus belok kiri dan sampailah kami di tujuan berikutnya: makan siang di Toko You Jl Hasanudin.
Sekitar tahun 1985 Ibuku membuka rumah makan Cwie Mie Malang di daerah Salendro juga. Nah, setiap minggu kami selalu pergi ke Toko You ini untuk membeli mie bahan baku Cwie Mie-nya, sementara baksonya ke Jl Holis, pabrik bakso ‘Panghegar’.
Toko You tahun 1985an masih berupa rumah peninggalan jaman Belanda dengan halamannya yang luas. Rumahnya sendiri berdiri di atas tanah yang agak tinggi dan mempunyai beranda yang berpagar kecil guna menjaga pengunjung ngga jatuh terjengkang ke halaman. Beberapa meja kursi diletakkan disitu untuk tempat kita makan.
Saat ini halaman yang luas itu sudah berubah menjadi tempat makan. Jenis makanannya pun sudah bertambah banyak. Tapi rasa yamien-nya tetap enak🙂
ki: Saat makan malam di Saung Sunda jl Setiabudhi, setelah rumah mode. Tempatnya enak, makanannya juga enak, harganya lumayan. Ada tempat main anak di bawah.
Selesai makan siang sudah hampir jam 2, saatnya menuju hotel untuk menyimpan koper. Hujan sedah berhenti ketika kami keluar dari resto ini. Segera kami balik arah kembali ke Dago atas.
Hotel kami, Sheraton Bandung terletak di bagian ujung atas jl Ir H Juanda ini. Ini pertamakalinya kami menginap disini. Biasanya kami menginap di Santika yang tinggal jalan kaki ke BIP, atau di Cipaku yang punya kolam air panas.
Tadinya kupikir kami akan dapat melihat sebagian pemandangan gunung dan kota, namun ternyata dari dalam hotel ngga kelihatan apa2.
Saranku bagi yang ingin lihat pemandangan bagus, menginaplah di hotel GH Universal di Setiabudhi atas, arah ke Lembang, setelah rumah sosis masih naik lagi ke atas. Atau ke hotel Padma yang punya pemandangan lembah kecil dan bukit Ciumbuleuit.

ka: Pemandangan dari balkon kamarku
ki: pemandangan dari pintu kamar
Setelah beres menyimpan koper kami segera menuju ke daerah Bandung selatan, tempat terakhir kami tinggal di Bandung, ke Kopo Permai, mau lihat rumahku dulu🙂. Jalan kesana selalu macet berat dari jaman dulu, apalagi sekarang. Sambil jalan kami mengingat2 tempat-tempat biasa menunggu angkot kalau aku mau ke SMAN 2 yang letaknya nun jauh di utara, bareng sama tante Oke yang mau ke ITB. Keluar komplek lalu naik angkot Abd Muis-Soreang, sampai tempat Damri mangkal, ganti Bis jurusan Kopo-Dago. Aku turun di depan balai kota untuk lanjut dgn angkot ke Ledeng.
Lalu lewat alun2 Bandung yang sekarang semrawut banget. Jaman dulu mobil masih bisa lewat jl Dalem Kaum. Dulu pusat belanja ada disini. Kalau sekarang kan tersebar di mana2 ya. Sambil jalan pikiranku sering melompat kesana-sini. Ingat ke Robinson dengan ibuku, nemenin belanja di Otista, kulakan di Cibadak, kemana-mana naik Vespa berdua🙂, termasuk juga pergi ber4 naik Taft biru telor asin B 1335 XG yang disetir Ayahku tiap Sabtu ke kantor pos kirim surat buat Opa Oma di Malang, dan waktu keluar dari kantor pos mampir beli undian (hahaha, ngarep dot com) di tukang jual nomer undian langganan dekat situ. Gantian aku atau adikku yang pilih nomer, tapi sekian tahun ngga pernah dapat sekalipun juga:)
Ibuku meninggal dunia di tahun 1992 pada usia belum 44 tahun akibat kanker yang sudah menyebar kemana-mana😦, hanya 2 tahun setelah kami pindah dari Bandung. Saat itu adik bungsuku (akhirnya di Bdg ini aku punya 1 adik cowoq yang cakep n bandel, hehehe, yg beda 11 th denganku) belum genap 7 tahun usianya.
Puas bernostalgia, kami akhirnya balik ke Utara dan memutuskan makan malam di resto Saung Sunda di Setiabudhi. Setelah itu kembali ke hotel, ngobrol bentar di kamar tante2ku, lalu boboks di kamar masing-masing.
Besok paginya Kevin sempat berenang di air yg ..bbrrr.. dingin. Lalu kami pergi sarapan bersama. Selesai semuanya lalu kita check-out sekitar jam 9 pagi.


ka: sebelum pulang, di depan lobby Sheraton Bandung.
ki: Kevin memamerkan buku terakhir Harry Potter yang baru dibelinya sendiri di Gramedia. 6 buku lainnya sudah lama dia tamatkan.
Yang dituju berikutnya tidak lain dan bukan adalah Rumah Mode di Setiabudhi, serta Brownies Prima Rasa dan Molen Kartika Sari di Buah Batu, juga ngelewatin hotel Horizon yang jaman dulunya adalah tempat berenang langgananku. Dari rumah di Salendro cukup naik becak.
Setelah itu kami makan siang dulu di rumah makan Mie Naripan, sebelum akhirnya kembali ke Jakarta ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s