>Bali Intercontinental – Admiring splendid beaches & arts

>

Bahagianya hati ketika my husband memberi hadiah liburan di bulan April 2011 ini. Bagaimana ngga berbunga-bunga? Liburan 3 hari ini akan diisi dengan menonton Tari Kecak, Tari Barong, ber-SeaWalker dan menginap di Intercontinental Hotel di Jimbaran. Yang terpenting adalah semuanya berada di pulau Bali, yippiie!!! Sudah 2,5 tahun nih tidak menginjakkan kaki ke pulau dewata ini.
Acara packing-packing yang biasanya bikin sewot kali ini dilakukan dengan hati riang karena untuk menginap 2 malam ngga perlu bawa banyak barang kan?

Jam 08.30 kami sudah mendarat di bandara Ngurah Rai dan disambut dengan hujan rintik-rintik. Aah, ngga pas banget deh karena Bali kan identik dengan panas matahari.
Setelah keluar di pintu kedatangan, kami sudah dinanti oleh Kadek dari
Baliaccess Car rental yang kami pesan dari Jakarta. Ternyata Suzuki Splash yang kami pesan entah kenapa diganti dengan Suzuki Swift. Ngga mau banyak tanya ah, karena harga Swift sebetulnya lebih mahal dari Splash, tapi kami ngga di-charge tambahan🙂 tengkyu..tengkyu..
Dari bandara, karena masih pagi dan belum sarapan maka kami pun meluncur ke area Kuta dan Legian, dan terus ke Patih Jelantik, tempat resto kecil favoritku berada.
kanan: syomainya…hmm
kiri: nasi goreng nanas..duh…ceesss
Setelah sarapan puaaassss dan sempat beli kain sarung Bali dengan harga grosir di ruko sebelahnya, kami segera menuju ke Jimbaran untuk check-in hotel.
Seharusnya sih jam 14 ya, tapi sekitar jam 11 ternyata sudah bisa.

Setelah meluruskan kaki sebentar dan mengelilingi hotel yang guedee bener ini kita langsung jalan lagi..
Tujuan pastinya adalah ke pantai Karma Kandara yang terletak di Ungasan, lalu ke Suluban Beach dan Pantai Padang-padang dekat Dreamland Beach, dan hari ini akan ditutup dengan menonton Tari Kecak di Pura Luhur Uluwatu.
kiri: salah satu cafe hotel yang terletak di tepi pantai dengan latar belakang teluk Jimbaran yang terkenal dengan resto seafood tepi pantainya itu
kiri: Karma Kandara di Ungasan, Uluwatu


kiri: Pantai Padang-padang, masih di Pecatu


kiri & kanan: Pura Uluwatu dengan monyetnya yang terkenal

kiri: Tari Kecak di Pura Uluwatu
Keesokan harinya setelah sarapan pagi di hotel, kami segera berangkat ke daerah Sanur karena jadwal hari ini adalah SeaWalker.
Acaranya selesai sekitar jam 12 siang lalukita langsung mengisi perut di Mc Donald yang lokasinya di Bypass Ngurah Rai.
kiri: jalan-jalan di dasar laut dengan helm SeaWalker
Setelah selesai makan rencananya aku ingin belanja🙂 tapi si Kevin langsung protes ngga mau ikut. Jadinya kami harus mengantar sang pangeran kembali ke hotel dulu, baru berdua hubby aku jalan-jalan ke Kuta, diantaranya sempat mampir di Krisna Bali buat cari oleh-oleh. Serasa pacaran lagi deh, ciee…
kiri & kanan: toko oleh-oleh Krisna Bali
Sebenarnya toko yang lokasinya di Jl Raya Kuta ini adalah cabang dari yang di Denpasar, namun ukuran toko dan lahan parkir disini lebih luas.
Di toko oleh-oleh besar ini semuanya ada, mulai dari gantungan kunci sampai salak bali!
Kaos banyak ragam dan harganya, dari yang murah dan berbahan tipis dan panas seharga ngga sampai limabelas ribu sampai yang mereka sebut kaos VIP seharga hampir seratus ribu rupiah perpotong ada. Harus jeli dan sabar memilih, periksa juga kalau-kalau ada bagian yang robek.
Dengan ukuran toko yang cukup besar mereka mempekerjakan cukup banyak pegawai baik laki-laki maupun perempuan. Hanya sayangnya para pegawai ini cuma sibuk becanda dan berfoto ria (bayangkan: berfoto-foto diantara banyaknya pembeli tanpa sungkan sedikitpun serta cekikikan bergosip).
Untuk bertanya tentang ukuran daster Bali saja aku sampai harus berteriak memanggil si mbak-mbak di depanku yang sibuk bercanda dengan sesama temannya itu. Soalnya udah 5 kali manggil dari nada do sampai sol ngga dengar juga dia. Tadinya aku pikir si mbak di bagian daster itu rada budek, eh ternyata di hampir seluruh bagian memang adatnya begitu semua….
Haloooo pemilik Krisna Bali toko oleh-oleh besar, gimana nih?

kiri: Seafood Jimbaran yang tersohor, cukup jalan kaki lewat pantai dari hotel kami🙂
kanan: pemandangan dari pantai hotel ke arah bandara Ngurah Rai menjelang sunset
Setelah puas ngubek-ngubek Kuta kami kembali ke hotel karena mau berenang bareng Kevin.
Sesorean hingga malam kami habiskan dengan leyeh-leyeh di pinggir kolam renang, pindah ke pantai, balik lagi ke kolam renang yang lain..
Hotel ini punya 3 kolam renang yang besar-besar, juga 1 kolam renang khusus untuk Club Intercontinental yang tidak bisa kami ceburin😦, dan banyak bale bengong yang bisa dipakai bersantai dan bahkan dipijat disitu, oh..oh.. sayang mahal banget.
Malamnya kami cari makan di Mal Discovery di depan Waterbom Bali dekat Kuta Square.
Malam minggu ditambah ini malam Paskah membuat polisi berjaga dimana-mana dan orang-orang tumpah ruah di jalanan, Heks!
Akhirnya kami putuskan makan di Domino Pizza aja yang bersebelahan dengan Burger King lalu balik ke Jimbaran. Eh pas mau bayar parkir di pintu keluar ternyata kita harus bayar di dalam gedung mal..hadeuh, baru kali ini mengalami model bayar kayak begini. Mana ngga ada pengumuman apapun!
Di Mal Kelapa Gading Jakarta memang kita bisa bayar di dalam gedung tapi itupun optional bagi yang mau, sisanya bisa tetap bayar seperti biasa di loket keluar. Sepertinya ngga cocok deh diterapkan di Kuta-Bali, secara ini daerah turis gitu lho, memangnya tiap hari saya main kesini?
Malam ini sepertinya kami Zzzz dengan sukses saking lelahnya. Tau-tau sudah pagi lagi, harus sarapan lagi, dan check-out dari hotel karena kami ngga mau buang waktu untuk kembali lagi ke Jimbaran setelah acara hari ini selesai.

bawah: latihan keseimbangan di Rip Curl-Legian
Menonton pertunjukan Tari Barong di Bypass Ngurah Rai adalah agenda kami hari ini. Setelah selesai kami segera kembali ke jl Legian dan juga Kuta Square untuk cuci mata (dan ‘terpaksa’ belanja ketika melihat Arena swimwear discount 40% all items, waks!)
Jam 13 siang kami menyerahkan mobil pada pihak car rental di pintu keberangkatan Bandara Ngurah Rai.
Bye-bye Bali, ’till we meet again :))

>The Mystique of Barong and Keris Dance

>

Inilah pertunjukan tari kedua kami setelah Tari Kecak. Kali ini venue-nya dekat aja. Masih di Jl Bypass Ngurah Rai, kalau dari arah Jimbaran setelah patung Dewa Ruci ambil arah yang ke Sanur. Setelah itu ambil jalur kiri, sekitar 100 m dari patung tersebut terdapat Pura di sebelah kiri, masuklah melalui jalan kecil disamping pura tersebut. tempat parkir mobilnya cukup luas di dalam.
kiri: bundaran Patung Dewa Ruci di depan Mal bali Galeria di Jl Bypass Ngurah Rai, foto ini diambil dari arah Jimbaran/Nusa dua
kanan: Kevin di stage Tari Barong
bawah: masih sepi saat kami datang
Pertunjukan akan dimulai tepat jam 9 pagi, namun sampai jam 9 kurang 15 menit koq baru ada dua mobil termasuk mobil kami ya? jangan-jangan bukan disini tempatnya.
Namun setelah bertanya pada seorang bapak yang ada disana, dia bilang benar disini tempatnya dan sebentar lagi juga ramai.

Tidak sampai 5 menit kemudian seorang perempuan datang ke pos masuk dan mulai menjual tiket. Kamipun menukar voucher kami dengan tiket masuk.

kiri: gending gamelan mengiringi Tari Barong


Asyiknya kalau datang duluan, seperti saat di Uluwatu, disini-pun kami dapat leluasa memilih tempat duduk.
Benar saja, ngga berapa lama kemudian segera saja tempat ini penuh oleh penonton. Dan setelah acara nge-Banten (sesajen) sebentar (foto kanan atas) kemudian dimulailah pertunjukan Tari Barong ini.

Sebenarnya nama tarian ini lengkapnya adalah Tari Barong dan Keris, namun kita lebih mengenal nama singkatnya saja.
Tari Barong menggambarkan pertarungan antara kebaikan dan kejahatan.
Kebaikan diwakili oleh sang binatang purbakala bernama Barong, sementara kejahatan diwakili oleh Rangda.


kiri: aneka gaya penonton


Ceritanya berkisah tentang Dewi Kunti yang telah berjanji pada Rangda untuk menyerahkan anaknya yang bernama Sadewa sebagai korban. Dengan dirasuki roh jahat, dewi Kunti menjadi tega untuk mengorbankan anaknya tersebut meskipun sebenarnya ia tidak tega.

Ketika Sadewa telah diikat dimuka istana Rangda, turunlah Dewa Siwa memberikan keabadian kepada Sadewa, sehingga akhirnya setelah perkelahian dengan Rangda, Sadewa menang, sementara Rangda mendapat

sorga setelah dibunuh Sadewa karena telah memohon pengampunan terlebih dahulu.

Salah satu pengikut Rangda ingin diselamatkan juga namun ditolak oleh Sadewa. Akhirnya pengikut Rangda mengubah diri menjadi Rangda sementara Sadewa berubah bentuk menjadi Barong.
Karena sama saktinya akhirnya pertempuran antara kedua makhluk ini tidak ada yang menang dan kalah serta berlangsung abadi.
Terakhir munculah pengikut-pengikut Barong masing-masing dengan kerisnya bermaksud ingin menolong Barong membunuh Rangda, namun mereka semua tidak berhasil melumpuhkan kesaktian Rangda.
foto kiri & kanan:
Tariannya selesai disini, sementara aku tetap bingung kemana si Barongnya ya? But After all, tariannya tetap saja cantik untuk dilihat, namanya juga Tari Bali dan ditonton di pulau Bali…

>Sea Walker– Visiting Nemo & friends

>

Setelah pulang dari Bali pertengahan tahun 2004 seorang sahabat memberitahuku tentang adanya SeaWalker, sebuah kegiatan berjalan-jalan di dasar laut, yang dapat dilakukan oleh semua orang bahkan yang tidak bisa berenang sekalipun. Syaratnya hanya berbadan sehat dan berumur 9 tahun atau bertinggi badan diatas 140 cm.
Meskipun kami bertiga senang bersnorkeling ria di laut, tetap saja tawaran untuk dapat berjalan kaki di dasar laut tanpa perlu menggunakan peralatan selam merupakan suatu godaan. Hanya saja godaan ini harus kami tahan selama 6 tahun!!!
Akhirnya, trip ke Bali tahun 2011 ini adalah yang ter-asyik karena akhirnya Kevin sudah berusia 10 tahun dan tingginya sudah hampir sama denganku yang ukurannya 160 cm ini🙂. Tiket SeaWalker pun sudah kami pesan dari Jakarta berbarengan dengan tiket Tari Kecak dan tari Barong. Karena kami datang sendiri ke Puri Santrian Resort, maka kami dikenai Rp 545.000 per orang. Anak-anak pun dihitung 1 orang😦. Jika dijemput ke hotel tentu akan lebih mahal.

Jam 08.30 kami berangkat dari hotel kami di Jimbaran. Memasuki Jl Bypass Ngurah Rai mulai sekitar pertigaan Jimbaran ternyata macet..cet..cet..!
Padahal kemarin kami diingatkan lewat telpon sudah harus dilokasi jam 09.30…
atas: ternyata setiba di lokasi masih harus menunggu sekitar 30 menit😦
Untungnya selepas patung Dewa Ruci di depan Mal Bali Galeria kemacetan mulai terurai. Akhirnya jam 09.40 kami sudah berada di Jl Danau Poso, Sanur, di lokasi Puri Santrian Resort.
kanan: gaya patung menangis
Setelah melapor ternyata kami masih harus menunggu beberapa orang lagi yang akan ikut, dan TERNYATA mereka mengadakan beberapa kali trip sampai dengan jam 12 siang. Jadi kalau tertinggal yang jam 09.45 maka kita masih bisa ikutan trip yang jam 10.15. Jadi rada manyun secara kemarin diingatkan untuk on time dan pengalaman nyetir ala sport jantung selama sekitar 1 jam barusan, Bleh!
kiri: Diterangkan bahasa isyarat dan prosedur darurat lainnya
Menjelang jam 10.15 kami dipersilahkan ganti baju di changing room. Semua barang bawaan disimpan di locker room yang aman. Jadi yang kami bawa hanya kamera tahan air (untuk kedalaman s/d 10 meter) dan handuk serta air mineral botol yang mereka sediakan.
Setelah berganti pakaian renang, kami diberi briefing singkat tentang prosedur keamanan di bawah air, bahasa isyarat sederhana dan tindakan darurat lainnya. Terakhir harus menandatangani surat pernyataan dan asuransi.
Setelah mengenakan wet shoes yang mereka berikan, berangkatlah kami dengan speedboat menuju ponton mereka yang letaknya beberapa puluh meter dari pantai.

kanan: dikerubuti ikan saat memberi mereka makanan

Tiba di atas ponton kami masih harus menunggu peserta trip sebelumnya yang sedang berada di dasar laut. Ternyata diantara mereka terdapat anak yang kalau dilihat dari badannya sih seperti berusia 5 tahun!!! Setelah kutanyakan pada petugas ternyata mereka bilang boleh saja namun resiko ditanggung sendiri…… oalah… tau gitu tahun 2007 atau 2008 udah ikutan deh.

Tidak berapa lama kemudian kami satu persatu masuk ke dalam air dengan helm yang sudah ada nomornya masing-masing. Oksigen dialirkan langsung lewat kabel ke dalam helm. Yang pakai kacamata boleh tetap menggunakan kacamatanya hingga ke dasar laut🙂
Saat menjejak tangga turun ke bawah, segera terasa tekanan di telinga, sakitnya –
bukan main. Namun sesuai petunjuk saat briefing hal tersebut dapat dikurangi dengan cara menggerakan rahang ke kanan dan kiri.
oh ya, jangan membayangkan bahwa tangganya semacam tangga bambu yang biasa digunakan tukang bangunan ya. Yang mereka sebut tangga adalah beberapa pipa stainles steel yang berjejer ke bawah, dengan jarak antar pipa lumayan lebar, jadi harus pegangan kuat-kuat supaya ngga bingung mencari mana anak tangga selanjutnya secara kita ngga boleh menunduk karena akan mempengaruhi posisi helm dan jumlah oksigen di dalamnya, wah!
Setelah menuruni kedalaman sekitar 5-6 meter akhirnya kakiku menjejak pasir di dasar laut. Mulanya pemandangan agak keruh, namun lama kelamaan jadi lebih jernih. Eh, baru mulai melangkah koq susah amat ya, ternyata hal tersebut disebabkan adanya arus laut. Untungnya dengan berpegang pada helm akhirnya bisa juga jalan dengan nyaman dibawah.
Selama sekitar 30 menit kami ber-enam dipandu oleh 3 instruktur selam dan 2 orang photographer berkeliling melihat aneka ikan dan koral dibawah, serta berkesempatan memberi makan ikan di bawah. Aih, serasa bintang film deh, karena sepanjang 30 menit itu semua gerakan kita diabadikan baik dalam bentuk foto maupun video.

Setelah habis waktu kami dipandu naik kembali ke ponton dan selanjutnya di transfer ke Puri Santrian menggunakan speedboat yang tadi. Saat kami sampai di atas ponton sudah ada 6 orang lain yang akan turun ke bawah. Laku banget ya..
kanan & kiri : baru kembali ke atas ponton
Setelah mandi dan berganti pakaian di changing room (mereka bahkan menyediakan hair dryer dan kantong plastik untuk baju basah) kami diberi minuman ice lemon tea dan dipersilahkan untuk menonton-

video hasil rekaman tadi. Jika berminat, dapat dibawa pulang dengan membayar Rp 170.000. Sementara untuk foto dapat ditebus dengan harga Rp 90.000 per lembar, haduh! untungnya kami membawa kamera sendiri :))
kiri: di bale bengong Puri Santrian

Sekitar jam 12 siang kami mampir di Mc Donalds Jl Bypass Ngurah Rai untuk makan siang lalu pulang ke hotel.

>Enjoying sunset & Kecak Dance at Uluwatu Temple

>

Bayangkan, berkali-kali pergi ke pulau dewata namun belum sekalipun nonton pertunjukan tarinya! Akhirnya pada trip kali ini kami sengaja khusus meng-agenda-kan dan bahkan khusus memesan tiket dari Jakarta, untuk dua pertunjukan tari yaitu Tari Kecak dan Tari Barong.
Setelah surfing sana-sini di internet kami memutuskan untuk menggunakan jasa ekuta holiday untuk memesan tiket kedua pertunjukan tersebut serta tiket untuk SeaWalker. Harga tiket per-orang untuk sekali menonton adalah Rp 70.000. Prosesnya ternyata cukup mudah, tinggal email mereka, tunggu kiriman konfirmasi harga, transfer via atm BCA lalu terakhir print aja voucher tiket yang mereka kirim ke email kita tersebut.

Sekitar jam 5 sore lewat sedikit kami sudah tiba di halaman parkir Pura Uluwatu yang letaknya jauh di ujung selatan pulau Bali.

Keuntungan datang lebih dini adalah mudah mencari tempat parkir dan bisa memilih tempat duduk di area menonton pertunjukannya.
Karena kami membawa sarung sendiri maka kami dapat terhindar dari antrian panjang orang-orang yang hendak menyewa kain sarung ataupun selendang kuning yang biasa kita gunakan jika memasuki kawasan pura di Bali.
Setelah berfoto-foto sebentar, kami segera menukarkan voucher tiket di dekat area pertunjukan dan sebagai gantinya diberi 3 lembar tiket masuk yang harus kami serahkan pada petugas di gerbang area pertunjukan nanti.
Karena baru sedikit yang memasuki area pertunjukan maka kami dapat leluasa pilah pilih tempat duduk. Setelah dapat yang paling tengah dan agak di atas kami segera mengeluarkan kamera dan camcorder serta mulai mengabadikan proses matahari terbenam yang kabarnya spektakuler tersebut.
Sayangnya hari ini tebal sekali awan di atas pulau Bali sehingga matahari tenggelam ke dalam awan🙂 bukannya terbenam di balik laut, hehe…

Perlahan tapi pasti menjelang jam 6 sore tempat duduk dalam area pertunjukan yang berbentuk melingkar tersebut semakin penuh (dan akhirnya menjadi terlampau penuh sehingga antara penonton dan para penari seperti berkumpul menjadi satu)
kiri: pendeta Hindu memberkati para penari
Seorang pendeta Hindu mulai menyalakan api di tengah area pertunjukan, dan tak lama kemudian rombongan penari laki-laki mulai memasuki area.

Tari Kecak adalah salah satu tarian Bali yang populer sejak tahun 1930-an dan dimainkan oleh banyak penari laki-laki yang duduk
melingkar dan menyerukan suara “cak” sambil mengangkat kedua lengannya, menggambarkan kisah Ramayana saat barisankera membantu Rama melawan Rahwana.

Namun sebenarnya Kecak berasal dari ritual Sanghyang, yaitu tradisi tarian dimana penarinya berada dalam kondisi tidak sadar dan melakukan komunikasi dengan Tuhan atau roh para leluhur.
Tari kecak tidak menggunakan pengantar gamelan, hanya suara “cak” para penari serta gemerincing suara kincringan yang diikat pada kaki penari yang memerankan tokoh kisah Ramayana ini.
Cerita singkatnya adalah saat Rama dan isterinya, Dewi Shita serta adik Rama, Laksamana, tengah diasingkan ke sebuah hutan.
Rahwana berupaya menyingkirkan Rama dan Laksamana dengan
mengirimkan seekor kijang jejadian jelmaan pembantu Rahwana, kemudian menculik Dewi Shita.
Lalu Rama dibantu Hanoman, bala tentara kera Sugriwa dan seekor burung Garuda mengalahkan Rahwana dan berkumpul kembali dengan isterinya, Dewi Shita.
foto kiri:
Di akhir cerita, para penari akan berkumpul di tengah area pertunjukan dan memberi hormat pada penonton, serta mengundang para penonton untuk berfoto bersama mereka.

>Padang-padang – Julia Robert’s beach

>

Wah, akhirnya sampai juga di pantai Padang-padang yang terkenal sejak jadi tempat shootingnya Eat, Pray & Love yang dibintangi Julia Roberts itu. Jalan menuju tempat ini lumayan gampang.
Dari arah Uluwatu, setelah melalui Suluban Beach jalan terus ke arah Dreamland namun sebelum sampai di Dreamland kita akan melewati sebuah jembatan yang mempunyai pemandangan ke arah pantai di sebelah kiri bawahnya. Ya, itulah pantai Padang-padang.
Jika datang dari arah Dreamland ikuti saja jalan raya Uluwatu hingga tiba di pertigaan kecil dekat pasar (jauh sebelum pertigaan yang ke Karma Kandara), ambil yang berbelok ke kanan dan ikuti saja jalan tersebut sampai tiba di jalan menurun yang di sebelah kirinya terdapat papan petunjuk tempat parkir ke pantai Padang-padang.

kiri: papan petunjuk parkir, hanya kelihatan dari arah Dreamland
kanan: jalan masuk ke pantai melewati gapura tersebut lalu turun dan belok kanan menuruni celah sempit diantara batu karang
kiri: pemandangan dari atas jembatan, jika kita datang dari arah Uluwatu / Suluban Beach
kanan: Tempat parkir mobil yang berantakan karena tidak ada yang mengatur, namun tetap bayar saat mau keluar😦
kiri & kanan: celah sempit menuju pantai Padang-padang yang harus dilalui bergantian antara yang baru datang dan yang akan pulang

Menurut penduduk sana pantai Padang-padang dulunya lumayan sepi, namun sejak filmnya Julia Roberts tersebut diputar keadaan jadi berubah.

Pengunjung tumpah ruah datang ke pantai ini. Makanya dibuatlah tempat parkir luas di seberang jembatan karena bukan hanya mobil pribadi yang parkir melainkan juga bus-bus tour! Halah..

Rupanya setiap pantai yang dijadikan tempat shooting film buntutnya akan ramai di datangi turis seperti Maya Bay di Koh Phi Phi, dan James Bond Island, keduanya di Thailand.
Lihat saja pemandangan pantai ini yang sekarang penuh dengan turis tumplek-blek, bercampur antara domestik (yang terbanyak) dan mancanegara seperti Cina, Korea, Jepang dan juga aneka bangsa bule lainnya.
Sementara di filmnya tergambar sebagai secluded beach yang bersih, tenang dan bening.
Kesimpulannya hanya membawa keuntungan bagi para manusia sementara lingkungan pantainya jadi terlihat kotor dan tidak terawat😦

>Marvelous View at Suluban Surfing Beach

>

Sebenarnya setelah dari Karma Kandara kami berniat menyambangi pantai Nyang-nyang di Uluwatu. Namun setelah melewati pintu masuknya yang terlihat tidak ramah untuk mobil Suzuki Swift sewaan kami (karena jalan masuknya sempit dan hanya berupa tanah saja) maka perjalanan kami lanjutkan hingga tiba di Pura Uluwatu. Nanti sore kami akan menonton pertunjukan Tari Kecak di sini sambil menonton matahari terbenam.
Sebelum melewati pos retribusi parkir, ambil jalan yang ke arah kanan, namanya Jl Pantai Padang-padang. Yuup! Betul sekali! maksudnya tentu pantai Padang-padang yang di film Eat, Pray & Love-nya Julia Roberts ituuh… Ikuti saja petunjuk jalan menuju Suluban Beach. Jalannya sih hanya mengikuti terus jalan raya mulus beraspal tersebut lurus-lurus ke arah kanan.
Setelah mengikuti petunjuk ke arah Suluban Beach, jalannya kemudian agak menyempit dan disebelah kiri terdapat beberapa vila kecil serta di sepanjang jalan tersebut banyak mobil dan motor di parkir, di ujung jalan yang buntu tersebutlah jalan masuk menuju pantainya.

kiri: pungutan parkir di Suluban
kanan: jalan turun ke arah pantai
Setelah membayar parkir Rp 3.000 serta melewati kios penjual topi dan cenderamata,turuni saja anak tangga curam tersebut.
Sebaiknya orang yang lanjut usia serta anak kecil berhati-hati bila pergi ke Suluban Beach karena akses jalannya yang cukup curam ini.
Suluban Beach adalah pantai khusus untuk surfing karena mempunyai ombak yang cukup bagus. Letaknya sejajar dengan pantai Dreamland yang sudah lebih dahulu terkenal.
Hanya saja jika di pantai Dreamland kita bisa menikmati pemandangan pantai dan bermain dengan pasir putihnya yang lumayan luas, maka di Suluban ini tidak terdapat pantai yang terbuka seperti di Dreamland.
Suluban Beach terbentuk diantara batu-batu karang yang terkikis air laut sehingga membuat pemandangan di pantainya yang sempit dan kecil ini menjadi begitu indah
kiri: pantai Suluban hanya seluas ini🙂

kanan: deretan warung dan resto Suluban Beach
Setelah menuruni anak tangga yang curam tadi sampailah kita di atas jembatan kecil. Setelah melewati beberapa kios surfing dan rumah penduduk serta wc umum yang bau pesing, jalannya terpecah 2. Yang ke kanan menuju ke warung dan resto yang dipenuhi bule2 surfer yang sedang istirahat. Sementara yang ke kiri merupakan arah menuju pantainya.
kanan: birunya Suluban Beach yang menawan
Setelah mengambil jalan yang ke kiri tersebut, menuruni beberapa anak tangga curam lagi, tiba di semacam cekungan yang kiri kanannya adalah batu karang putih berlubang-lubang, jalannya tiba-tiba habis!! Tapi di bawah sana terlihat beberapa orang menggotong papan surfing mereka menuju pantai kecil yang tersembunyi diantara batu karang berukuran besar-besar.
Hayah! ternyata jalan yang kupikir putus tersebut langsung tersambung dengan sepotong anak tangga yang (lagi-lagi) curam dan kali ini sempit (hanya cukup untuk satu orang sekali jalan) dan kanan-kirinya ngga ada tempat berpegangan sama sekali. jadi perasaan nih kita seperti terbang melayang ke bawah….

kiri: viewing point sekaligus tempat sunbathing
Tiba di bawah kita langsung berada di dalam semacam gua yang terbentuk dari batu karang yang dikikis oleh air laut. Di ujung depan gua sudah terlihat air laut bergulung memasuki mulut gua. Inilah yang dinamakan Suluban Beach.
kiri: pemandangan indah dari viewing point di atas batu karang.

Karena disini tidak terdapat pantai yang dapat dijadikan tempat berjemur, rupanya masyarakat di sana cukup kreatif sehingga membuatkan tempat berjemur di puncak batu-batu karang tersebut. Terdapat 3 tempat berjemur di atas sana yang dapat dicapai dengan menaiki anak tangga yang terbuat dari kayu.
Setelah sampai di atas sana rupanya selain tempat berjemur banyak juga orang yang khusus datang kemari untuk mengambil foto para surfer yang sedang beraksi serta pemandangan alamnya yang cantik. Ngga rugi deh pergi ke sini, apalagi kalau bisa surfing ya.
kanan: jalan pulang yang ditempuh dengan perjuangan :))

>Exotic Karma Kandara

>

Sekitar pertengahan tahun 2010 aku pernah melihat foto tempat ini di salah satu akun Facebook teman. Saat merencanakan trip ke Bali, suamiku mengusulkan (karena efek liburan ke Lombok, hehe) agar kami menengok beberapa pantai di pulau dewata, tentunya selain dari Pantai Kuta dan Pantai Legian yang sudah sering disinggahi itu.
kanan: Petunjuk jalan ke Karma Kandara
kiri: lorong panjang menuju diMare resto

Setelah meletakkan koper di hotel, kamipun segera berkendara ke arah Uluwatu. Kebetulan hotel kami berlokasi di daerah Jimbaran sehingga untuk mencapai Karma Kandara di Ungasan tidak perlu waktu terlampau lama.
Ikuti saja Jl Uluwatu yang menanjak tersebut melewati Garuda Wisnu Kencana, naik lagi sampai ketemu pertigaan kecil dimana terdapat tugu petunjuk ke Nammos (beach club di Karma Kandara Resort), Karma Kandara serta di Mare restaurant, ambil jalan kecil yang ke kiri (sementara jl Uluwatu nya terus berbelok ke arah kanan).
Dari sini jaraknya masih sekitar 4 km untuk sampai ke Karma Kandara yang letaknya di ujung pulau. ikuti terus jalan kecil berkelok-kelok tersebut, perhatikan setiap petunjuk ke Karma Kandara, ambil arah menuju diMare restaurant, jangan yang ke Karma Kandara Resort nya.
Sampai di ujung jalan yang buntu, disanalah tempat parkir mobil diMare restaurant. Segera berjalan kaki melewati pos jaga, menuju lorong panjang berbatu alam di sisi kiri-kanannya. sampai di ujung, pilih tangga yang menurun ke bawah. Dari sini dapat terlihat resepsionis diMare, jangan daftarkan diri jika anda tidak berniat makan. jalan terus ke sebelah kanan. Tepat setelah resepsionis terdapat tangga turun lagi ke bawah yang bertanda Spa dan Nammos Beach Club. Turunlah melalui tangga tersebut.

(foto kanan)

Dari sini kita dapat menikmati pemandangan yang fantastis, terutama dari sisi kolam renangnya. Boleh koq berfoto disini.
Jika sudah puas melihat-lihat pemandangan dari atas sini, kita da-
pat turun ke bawah dengan menggunakan lift yang terletak di ujung paling kiri dari kolam renang.
kiri: rel lift yang curam
Karena liftnya kecil, maka hanya dapat diisi sekitar 6 orang termasuk
si mbak operatornya.
kanan: pemandangan saat turun
kiri: lift sedang turun ke bawah
kanan bawah: pintu lift di atas
Liftnya berbentuk open cabin di bagian atasnya serta mempunyai jalur rel mirip The Peak Tram di
Hong Kong. Dengan derajat yang curam liftnya bergerak turun naik dengan bantuan kabel yang digantung di bagian samping atasnya.

Saat turun liftnya bergerak mulus, namun saat akan kembali ke atas gerakannya disertai beberapa guncangan kecil🙂 Tapi rugi kalau ngga mencoba, karena pemandangan di bawah bagus, selain itu liftnya gratis lagi :p
Sebenarnya bisa juga sih turun ke bawah lewat anak tangga biasa. Jumlahnya 350 steps, menuruni ketinggian sekitar 85 m, hehehe, mau coba?
Di bawah terdapat restaurant serta beach club Karma Kandara. Kita bisa makan atau main di pantainya. Tempat ini menurutku lebih bagus kalau pagi/siang hari, karena kalau malam paling yang bagus hanya lampu-lampu restonya saja, sementara lautnya kan gelap….
kiri: di tempat menunggu lift sebelah bawah